Kamis, 24 Agustus 2017

Malam 25 Agustus

Hey blog, sudah lama kata-kata dalam pikiran ini tidak terungkap untuk menyentuh hati sendiri. Mungkin malam ini kali pertamanya aku belajar untuk memindahkan pikiran penat menjadi hal yang lebih menenangkan. Besok adalah tanggal 25 Agustus menjadi waktu penting untuk seseorang, bukan aku. Mungkin akan menjadi hari keikhlasan untuk ku dan bukan hari patah hati seperti pernikahan raisa dan hamish di tanggal 3 september nanti. Kata kata barusan sebagai pembuka atas tiga hari berat yang kualami belakangan.

Semula semua baik-baik saja, bahkan hampir sempurna. Aku miliki apa yang aku mau dan aku bisa makan apa yang aku inginkan. Kemudian tiba-tiba berubah karena satu hal yang menjadi hipotesa kepanikan diri. Tapi diri ini mengelak atas apa yang dipikirkan sebagai hipotesa, ah tak mungkin kata ku.

Ini tentang perasaan yang mungkin tak harus dianggap penting. Perasaan yang sudah lupa aku bagaimana rasanya karena telalu lama dipendam dan mungkin telah membusuk. 

Seseorang.

Dia adalah orang yang sangat ku kenal dulu. Seseorang ini yang mengajarkan aku kesabaran dan kepatuhan dalam menjalin suatu tali yang mungkin lebih dari persahabatan. Orang yang aku kenal sebagai pribadi yang dewasa dan bertanggung jawab. Ia sangat idealis dan teguh pendirian. Dengan paras sewajarnya sebagaimana sesuatu yang menarik.

Aku tahu semula bagaimana ia dalam dunia yang menjadi media bersosial dan bagaiamana ia di tiga hari terakhir.


Mendadak semua pecah layaknya gelas kaca di banting amarah. Ia datang dengan dirinya sebagaimana dirinya dan dirinya sebagaimana seorang ayah dari anak anak balita yang sangat kreatif menari bernyanyi sesuka hati. Menyenangkan hatiku memang bahkan sangat menyenangkan.

Namun apa daya, ia memang datang tapi ia pun pergi. Begitu saja. Tanpa berkata selamat tinggal. Ku tahu ia tak mengucapkkannya karena tak ada kata selamat datang dalam niat hatinya akan ku katakan.
Harap tinggal lah harap, senyum mau tak mau tetap berbinar. Waktu berlalu begitu cepat juga tanggal 25 Agustus yang ia tunggu tunggu akan datang. Mungkin seseorang itu lupa atau memang tidak peduli, Tak apalah semua sudah berakhir dan malam menjadi saksi sedihku usai.

Aku bukan yang dulu ia pikirkan. Bukan sebagai teman apalagi sebagai seseorang yang membuatnya bahagia kala sedih. Ia tetap menjadi orang yang idealis dan bertanggung jawab yang aku kenal. Tapi dia bukan dia yang mendengar keluh kesahku seperti dulu. 

3 harii ini membuatku paham, tentang arti perasaan yang tak akan bisa bertahan jika sudah ada yang menggantikan. Mungkin itu teori yang ia anut. Sudah berakhir semua, mungkin tak ada lagi pertemanan atau pertemuan tercipta. Kini saatnya aku menjalani hidup ala kadarnya. Kembali menjalani hal biasa yang tiap hari dilakukan.

Terima kasih atas semua harap yang telah tercipta. Tapi ketahuilah segalanya dalam diriku tetap sama meski tidak dalam dirinya. Besok menjadi hari yang menarik untuk dirinya dan aku berharap hal terindah juga terjadi. 

Selamat jalan.


Mencintai dalam diam

Aku mencoba membuka mata
Melihat ke kanan dan kekiri
Ternyata dirimu di depanku
Menyambut senyuman dengan senyuman
Aku mengagumimu dari kejauhan
Setiap langkahmu yang tak bertuju
Setiap canda mu yang samar terdengar
Bahkan mimpi yang kau ceritakan semalam
Aku hanya teman biasa ketika itu
Bukan sahabat
Bukan pula karib yang dekat
Tapi izinkanlah
Aku hanya ingin mencintaimu dalam diam
Dalam kesunyian hati yang tak terucap
Keagungan indahnya pengharapan
Yang ntah kapan terbalaskan

Senin, 17 Oktober 2016

Tanpa Inspirasi Menulis

Sempat terpikir apa artinya menulis tanpa pikiran. Ya meskipun aku sering begitu. Tata bahasa begitu berantakan. Berserakan bagai tulang belulang yang dilihat ashabul kahfi saat bangun dari tidur panjangnya. Loh mengapa asumsinya seperti itu?
Karena aku tetap yakin, dalam keberantakan itu, ada keajaiban yang tuhan berikan.
Bukan sekarang, tapi nanti. 

Semua itu dimulai dari kata-kata. Meski alasanku menulis hanya karena kebingungan apa yang harus aku lakukan, itu menjadi awal dari terbentuknya susunan kata tak berima dan tak bernada.
Alah bahasa ku kali ini makin menjurus pada kumpulan sampah di tongsampah dekat pintu masuk sekolah. ataukan seperti otak seseorang yang masih memikirkan mantan? harusnya dibuang. Mantannya, bukan otaknya.

Hmm aku sedang memikirkan satu hal. Otak-otak goreng yang baru diangkat dari penggorengan sepertinya sangat lezat dimakan di malam hari yang dingin. Dikamar kost dengan suhu AC 21 drajat celcius dengan Fan Speed maximum. Begitu dingin.. seperti kata-kata mu, wahai mantan haha.
otak-otak yang digoreng berwarna kuning keemasan. Emas? Apa aku kaya? Tidak, itu gambaran otak-otak goreng yang tidak jadi aku beli sore ini. Kemudian penyesalan itu datang.
Oh otak otak,.. seharusnya lambung ini sudah menghancurkanmu dengan enzim enzim yang dulu aku pelajari dalam pelajaran biologi yang terakhir kali aku pelajari 4 atau 5 tahun lalu? WOW.

Sudahlah, kali ini aku sangat tidak dewasa menyesali pembelian makan.
Sekarang akan jauh lebih enak jika kita membayangkan tentang kesuksesan?
Alah itu makin kurang tepat dipikirkan ketika inspirasi tak muncul.
Seperti, SAYA HARUS SUKSES, TAPI SAYA LAPAR.
loh lapar lagi. 

Sampai detik ini, 100 kata sudah ditulis tapi tetap tidak kunjung muncul inspirasi itu.
Harusnya tulisan ini aku hapus, kenapa tidak? ayolah hapus. ah sudahlah tidak apa-apa. siapa pula yang akan membaca. aku bisa hitung dengan 2 jari. 1 jari adalah aku, satu jarinya adalah pacarku yang aku paksa membaca. bukan membaca, tapi membuka.
yaaaa setidaknya. ada 2 :)

Selanjutnya yang harus kita bicarakan adalah inspirasi dalam menulis.
Teman teman yang saya hormati (lebih tepatnya saya dan pacar saya yang terpaksa harus membaca)
Inspirasi itu seperti keikhlasan.
Muncul dengan sendirinya, tanpa harus di teriakan se kencang kencangnya.
Biarkan itu muncul dalam diri. Dari apa yang dilihat, dengar, rasakan, resapi, nikmati.
Muncul dengan nada bagai di sinetron, Aha~

Sepertinya semakin tidak ada gunanya menulis saat ini tentang hal aneh.
Setidaknya inspirasi itu sudah aku cari meski tidak jua muncul.
Tapi aku yakin, jika dia sayang aku, dia pasti datang #eh #bukanmantan #bukancinta

#iniinspirasi

Kamis, 01 September 2016

Mat.kul masa lalu

Andai waktu ini bisa diulang
Andai aku terlahir 3 tahun lebih cepat
Andai aku tau makna kuliah
Tak mungkin begini jadinya

Bahagia sekali ketika masuk dalam rumah
Rumah kedua yg dinamakan kampus
Kampus perjuangan
Kampus biru

Matakuliah masa lalu
Membuatku teringat
Apa isinya itu
Atau hanya gambaran nilai dalam huruf

Mata kuliah masa lalu
Kuharap bisa kembali
Mengulang kesalahan
Berbagi dalam pelajaran

Aku suka belajar
Apalagi untuk mengajarkan
Disitulah aku kembali belajar
Mata kuliah masa lalu

Rabu, 17 Agustus 2016

Air mata rindu

Melihat berbagai keindahan disekitar
Kadang membuat ku termenung
Apakah aku harus bersyukur
Ataukah aku harus bersedih

Kenangan itu muncul perlahan
Kebiasaan buruk untuk memaksa kenangan hilang
Meskipun begitu
Kenangan tak mungkin hilang

Suara nyanyian begitu ribut di telingaku
Mengajakku memulai untuk berfikir
Apa ini adalah sendu yang berarti rindu
Ataukan hanya omong kosong belaka

Berminggu minggu aku tak melihatmu
Melihat senyumanmu yang begitu mekar 
Bagai bunga yang tak mau kuncup lagi
Dengan lemah lembut tetap menjadi mekar

Mengulang rasa indahnya ada di senyummu
Kurasa itu adalah miliku
Dalam suasana yang begitu hangat
Bermanja pada ketenangan yang menyelimuti

Aku disini merindukanmu
Berharap kau disini
Memandang mu penuh harap
Akan cinta di masa depan

Andai kau membaca ini
Meskipun sangat biasa
Aku tulis tiap kata penuh air mata
Air mata rindu

Rindu ini menuju kepadamu
Orang yang selalu buatku tersenyum
Menyaksikan tiap cerita
Membenarkan apa yang salah dariku

Terima kasih wahai kawan
Kau tetap yang ku rindukan
Sahabat ceritaku
Inspirasiku

Kamu Rifqi